Obskuritas

1413489238-businesses-die-obscurity-do-all-you-can-gain-attention
Tiada yang lebih fana dari keinginan menjadi terkenal. Entah dari mana asalnya: tapi sejak dahulu kala, kemasyhuran sudah menjadi berhala. Raja yang masyhur. Tabib yang masyhur. Penyair yang masyhur. Apa, sebetulnya, yang membuat orang merasa ingin dikenal orang lain? Enaknya di mana? Di zaman kini, orang bisa jadi terkenal tanpa alasan. Raja bukan, musisi bukan, pemikir bukan, apapun bukan. Kau bisa jadi anak sekolahan yang narsis, atau orang yang sekedar punya waktu buat video di Youtube, atau merepet di Fesbuk dan Twitter. Likes, ah likes. Retweets. Shares. Aku sendiri juga punya keingingan itu. Aku juga senang dikenal orang. Saya merasa hebat bila ada satu post saya di media sosial banyak dibaca orang, apalagi dikomentari dan dipuji. Ah, betapa fana, karena melihat itu semua kini, melihat semua post yang dulu pernah “terkenal” atau “viral” itu, tak sebenang jua pun ada rasa bangga (ah, bangga! Kebanggaan!). Satu alasannya mungkin adalah faktanya post itu sudah tak lagi dikunjungi orang; kecuali satu dua necroposter yang kehilangan arah di jagad internet yang kerap hadir sebagai simulakra tiada berujung ini. Aku ingat Sora9n, anak muda yang biasa menuliskan pikirannya di Internet; dan betapa Sora9n ini bukan Iqbal Aji Daryono dan semua penulis internet beken lainnya; betapa dia bukan selebritas, bukan berhala intelektual yang dipuja ribuan followers di Twitter. Ada yang melenakan dari bersembunyi dalam obskuritas; karena kenyataan sering kali terlalu berat untuk dikunyah, dan orang lain, sebaik apapun mereka, bisa jadi rese setengah mampus.

Tidak bisa dipungkiri, kami adalah pengecut. Meski, sebagai sebuah pembelaan, kami berfikir dunia maya yang riuh dengan segala komentar pintar dan salih itu tidak layak untuk diseriusi—toh, apa yang bisa kami lakukan? Menabur garam di lautan? Fana, sia-sia—memilih jalan obskuritas memang penuh paradoks. Tidak ada yang lebih fana dari keinginan menjadi obskur, keinginan untuk tidak menjadi terkenal. Karena, apa yang membuatku berpikir aku akan menjadi terkenal dalam semalam? Mungkin masalahnya niat; yakni desakan menjadi terkenal.

Apa yang ditawarkan dari keinginan, pilihan menjadi obskur, paling banter, adalah kekebebasan dari hasrat ngebet maksa pengen terkenal.  

Advertisements
This entry was posted in katarsis and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s