Politik Itu Sementara, Puisi Abadi

f87de1210cfa5bd7ca3b1fd2648f6e73.pngYang politik, dan yang puitis. Keduanya niscaya. Kita tidak punya kemewahan untuk memilih. Kita bisa mengelak, menutup mata juga telinga, dan kemudian tidur sepanjang hari, tapi yang politik tetap akan hadir juga, poking us, menarik selimut kita, hadir dalam berbagai bentuknya, seperti tagihan pajak, atau sebuah pertanyaan bila besok masih ada listrik, gas dan transportasi. Layanan publik tidak terjadi begitu saja, dikelola secara ajaib oleh Tuhan semesta alam dan para malaikatnya nun jauh di sana. Layanan publik itu hanya mungkin ada bila kita percaya bahwasanya ada suatu kuasa besar di luar sana yang bisa melayani kita, apakah itu negara atau korporasi. Apapun, keduanya punya kuasa, dan sering kali kita sendiri yang memberi kuasa itu. Meski demikian, yang politis bukanlah yang abadi; konon, dalam politik sendiri, dikenal sebuah adagium, bahwa—dalam politik—tidak ada kawan atau lawan yang abadi. Tentu saja, ini bukan rocket science (apa padanannya dalam bahasa kita?). Politik memang begitu, tapi ya entah bagaimana sudah lewat entah berapa lama itu pilpres 2014, masih saja pun terasa polarisasi yang begitu emosional dan dangkal, seolah politik adalah pertempuran abadi antara kebaikan dan keburukan, seolah politik adalah serial ksatria baja hitam, atau semata perpanjangan cerita dari kitab suci berbagai agama. Padahal politik tidak lain tidak bukan adalah ikhtiar Sapiens untuk memperpanjang hidup mereka masing-masing; yang baik dan buruk bercampur aduk, yang salah dan benar, bila memang diharuskan, bisa bergandengan tangan untuk kebaikan yang lebih besar, atau untuk kepentingan yang jauh lebih besar, terlepas dari persoalan baik atau buruk, benar atau salah. Paradoksnya di situ: dalam politik kita bisa memilih dan tidak bisa memilih pada saat yang bersamaan. Itu sebab, golput terasa begitu redundan. — Yang menjadi pertanyaan adalah sejauh mana kita mau berhenti dan melihat lagi hidup dalam berbagai lekuknya yang asing; dan kembali mengenali yang puitis dari kehidupan, yang akan selamanya abadi, dari jaman mula kehidupan hingga habis kesadaran manusia, pada mana yang tinggal hanyalah kekosongan dan keheningan yang panjang, sepi dan tiada berbatas. Ini penting untuk dilakukan karena dengan segala kesegeraan, kegentingan, kegunaan politik yang banal, mudah sekali kita berpikir bahwasanya yang politik itu abadi, seolah politik adalah segalanya. Padahal, persoalannya sesederhana membeli buah di pasar; terlepas dari pengetahuan kita yang sangat pas-pasan tentang buah-buahan, kita akan berpura-pura mencari buah yang paling bagus, atau paling tidak busuk, meskipun pada kenyataannya buah yang paling bagus dan paling tidak busuk, pada situasi yang lain, adalah kebusukan yang tiada tara. Namanya juga ikhtiar—salah atau benar, baik atau buruk, gagal atau berhasil, itu urusan nanti.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Politik Itu Sementara, Puisi Abadi

  1. ARS says:

    jadi pada akhirnya semoga anda tidak golput. setidaknya, saat negara ini sudah menginstall demokrasi, dengan positif dan negatifnya, gunakan suara.

    Like

  2. yuhu bacaan yang menarik. follback dong broh

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s