Waham Muslim Liberal Ngehe

Orang Islam yang liberal, ngehe dan delusional. Mereka ada di kepala untuk saya cela. Apanya yang Islam? Apanya yang liberal? Apanya yang ngehe? Dan apanya yang delusional? Saya tidak punya jawaban yang jelas soal ini. Tidak ada jawaban yang bersifat analitis, atau kategoris. Aku tidak punya data yang solid, laiknya seorang peneliti sosial yang mumpuni, juga premis atau anggitan yang sempurna untuk menopang apa yang ingin saya ungkapkan di sini; bahwa di luar sana, ketika saya menulis ini, ada sekelompok orang yang saya sebut Muslim, liberal, ngehe dan delusional—hidup damai tentram di balik akun medsos mereka.

ya ya ya semua salah

orang miskin harus dibela! yea rite

Aku sadar label hanyalah label, dan label tak mesti berkorespondensi dengan kenyataan, dengan sesuatu apapun itu, apalagi manusia, yang tidak satu dimensi, yang dikenakan label itu sendiri. Aku sadar label itu generalisasi—dan generalisasi tidak pernah adil. Pun, aku sadar bahwasanya kenyataan itu kompleks. Tadi siang aku melihat tukang pasang batre jam. Hidup berjalan seperti adanya buat si abang itu. Kerja dari pagi sampe sore. Apa dia berpikir bahwa kemalangan dia adalah akibat dari sistem yang tidak berkeadilan—dilahirkan sebagai miskin, tak punya akses pada pendidikan, tak punya akses pada lapangan pekerjaan? Ah, misteri eksistensi, sejak dulu menggoda nalar. Tapi di sini aku tak ingin berfilsafat. Aku ingin memuntahkan rasa jengkel pada sekelompok orang di kepala, yang boleh jadi imajiner, tapi punya karakteristik yang menurut saya jelas. Mereka ini:

Berpikir kalo masalah terbesar kehidupan atau satu-satunya masalah di dunia adalah agama. Adalah benar bahwa agama biang dari banyak persoalan. Tapi agama jelas bukan satu-satunya biang persoalan. Narkoba, misalnya. Atau kemiskinan. Dua persoalan itu tidak bisa disebut sebagai akibat langsung dari agama. Ada biang-biang lain yang juga layak disalahkan dan tidak bisa diabaikan. Kapitalisme, misalnya. Atau oligarki. Keserakahan. Egoisme. Hilangnya empati. Dlsb.       

Dan sialnya, mereka ini adalah juga orang yang mengaku beragama. Tapi mereka ini beragama dengan “benar.” Tidak seperti anggota FPI atau orang-orang Islam yang biasa dikasih label salafi, revivalis, fundamentalis, islamis, garis keras, dlsb. Ironisnya dari orang-orang ini adalah mereka ini punggawa pluralisme, sering kali berkoar bahwa setiap penafsiran adalah benar, bahwa mereka belum tentu benar, bahwa orang punya hak untuk berbeda, tapi mereka juga yang paling bernafsu mengekang kebebasan orang lain, mencibir kebebasan orang lain. Tentu, tidak semua yang mereka protes itu tidak beralasan. Tapi lihat batas juga lah. Mengkritik FPI itu perlu. Melarang keberadaan FPI itu ya kebablasan. Membela minoritas itu penting. Mengintimidasi mayoritas dengan kosakata intelektual yang ajebrew binti menggurui alias patronizing itu ya keblinger. Di mata saya, seliberal-liberalnya orang, selama masih beragama—sebelas dua belas sama FPI!

orang islam paling pinter

orang islam paling pinter

Oleh karena dua alasan di atas: mereka cenderung abai pada absennya keadilan sosial. Mereka berpikir bahwa jikalau FPI mati, dunia akan baik dengan sendirinya. Itu karena, pada saat ini, mereka tidak berada di level paling bawah dalam piramida sosial-ekonomi masyarakat. Mereka gak punya kepentingan untuk ikut demo sama buruh-buruh di Jakarta. Mereka gak punya kepentingan untuk melawan tirani penggusuran. Pendek kata, mereka ini defisit empati. Sudah kadung nyaman dengan kehidupan mereka. Satu-satunya persoalan yang mereka pusingi ya FPI itu, yang akan mengancam gaya hidup liberal mereka. Jadi ketika ada figur yang bisa dijadikan simbol perlawanan atas FPI sebagai nemesis para Muslim liberal bin progresif itu—dengan membabibuta mereka bela itu figur, tak perduli kalo orang yang sama adalah orang yang cenderung abai pada keadilan sosial, karena mereka juga udah gak perduli persoalan itu. Kalo pun iya mereka perduli—sifatnya charity belaka. Sumbang sana, sumbang sini. “Kalo masih miskin, itu salah mereka! Jangan malas! Harus mandiri! Hidup itu keras! Kerja!” What an asshole.

Ngehenya mereka itu ya itu: kebal ironi. Merasa pluralis, padahal fasis. Merasa jago karena membela agama minoritas, tapi abai pada minoritas miskin. Lebih jauh dari itu, mereka ini bersikap seperti FPI pada kelompok minoritas miskin, dengan memberi stigma pemalas, sampah masyarakat, tidak tahu diuntung dlsb. Sudahpun begitu, masih bisa mereka menyebut diri humanis. Dasar kutu.

Disklemer: Saya mungkin sama liberal, ngehe dan delusionalnya.

Advertisements
This entry was posted in katarsis and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s