Lima Alasan Kenapa Chat Berjama’ah Adalah Sebuah Distopia

Dunia berubah. Apa yang bisa kita lakukan? Sedikit, kalo ada. Coba tanya Rhenald Kasali, evangelis perubahan paling wahid seantero negeri. Kalo lo gak berubah, katanya, lo bakal jadi sejarah. Liat Nokia dan Blackberry—di mana mereka sekarang? Gua sebetulnya bukan anti-perubahan. Tapi gua gak bisa bohong kalo gua juga merasa perubahan gak melulu bagus. Dan gak semua yang jadul dan tradisional jelek. Iyalah. Coba liat karya seni Renaisans. Atau coba dengerin Mozart. Dan sudahlah tentu: Gak semua yang baru, modern, teknologis, muthakhir, dijital itu  bagus. Grup Watsap, contohnya. Kalo ane bilang mudorotnya lebih banyak ketimbang manfaatnya. Buat mereka yang agak agorafobik, kamar ceting adalah sebuah distopia. Eksistensinya tidak bisa dijustifikasi secara moral. Sedikit, sedikit sekali kemajuan teknologi yang bikin ane marah. Ceting ramean adalah salah satunya. Jadi, kenapa sih? Kenapa Grup Watsap is annoying and scary as fuck?

47913661-Business-People-Group-Chat-Communication-Bubble-Concept-Businesspeople-Talking-Discussing-Communicat-Stock-Vector

Grup cet kantor. Lagi musim.

Setiap saat kita berdiri di depan panggung

Pada dasarnya grup Watsap itu public speaking. Dan buat sebagian orang public speaking itu gak beda dengan lompat ke jurang. Oh, lo udah merasa nyaman dengan temen-temen di grup ceting lo? Lo gak merasa canggung? Ya I’m not talking about you. Tentu saja dalam grup cet selalu ada orang yang seneng ngelucu yang sering postang-posting soal apa aja. Tapi, jangan lupa, ada juga mereka yang merasa perlu untuk memikirkan masak-masak apa yang akan dia posting di grup. Kira-kira situasinya begini: “Ini kalo gua ngomong gini di chat gua bakal dianggap psikopat gak ya?” Iya, iya, gue tau, kalo susah, posting aja yang simpel-simpel gak usah sok lucu atau sok pinter. Kayak, ngucapin selamat pagi, misalnya. Apa salahnya sih? Well, kadang, kalo gua lagi kesetanan, rasanya mau nyekek orang yang pagi-pagi ngewatsap cuma ngucapin selamat pagi. What a freak.

Mereka Yudas dan mereka bukan gajah

Dan kalo lo salah ngomong di grup cet, dan lo jadi bahan buli di grup, mereka bisa screen capture komen lo. Jadi, ibaratnya lo disuruh nyanyi di depan kelas. Dan ternyata resleting lo kebuka. Atau tiba-tiba celana lo kedodoran. Dan semua orang punya kamera. Dijepret lah. Habis sudah karir politik ente. Lo gak bakalan bisa jadi presiden. Intinya, lo ga bisa jamin di grup lo gak ada Yudasnya. Lo ga bisa 100 persen percaya temen lo itu temen lo di Internet. Udah banyak kasus—lo salah ngomong di grup cet, besoknya orang se-Indonesia baca komen lo. Jadi ingat, temen lo di grup cet itu bisa jadi Yudas dan mereka bukan gajah!

aid60683-728px-Forget-About-an-Humiliating-Experience-Step-14

Hahahahaha.

Mereka tidak akan pernah bisa diam

Mereka tidak akan pernah berhenti. And you will have to catch up. Lo tau itu bodoh—dan lo bisa aja gak peduli. Tapi kita semua tau lo suka baca pesan apapun yang masuk ke hape lo. OH, ADA SMS! Ah, the good old days. Jadi, kau ingat-ingat ini. Mereka tidak akan pernah lelah. Kalo mereka berhenti, itu karena mereka sudah lari ke grup lain. And they will add sooner or later. Dude, run for your fucking life.

1*70nC7ktnNMg9Ygf7hHogRQ

Mereka tidak akan melepasmu begitu saja

Grup cet itu tekanan sosial at its most ferocious. Mereka ini bisa bertingkah kayak aktivis NII atau sekte agama aneh yang gak akan melepas lo begitu aja. Harga sosialnya terlalu mahal, kadang. Apalagi kalo lo tipe orang yang peduli apa kata orang. Kenapa? Karena kalo lo di-add ke grup. Itu artinya lo dianggap sebagai bagian dari kelompok sosial itu. Dan kalo lo cabut, lo berarti itungannya murtad. Lo bertindak makar, alias treason.  Dan mereka akan ngomongin lo di belakang keypad. They will fucking judge you. And there will be consequences my friends. Ya, tentu saja, apa salahnya jadi orang anti-sosial? Ya gak ada. Tapi lo kan gak tinggal di novelnya Dostoyevsky. Lo pengen jadi anti-sosial yang invisible. Lo gak mau jadi bahan gunjingan orang. Itu kutukannya: jauh di lubuk hati lo itu konformis.

image

They’ll come to you.

‘Kampret gue salah kirim Watsap ke grup!’

Nah, kalo lo merasa alasan di atas terlalu mengada-ngada. Lo harus terima kalo ini adalah resiko grup cet yang gak bisa lo cuekin begitu aja. Gua gak ngomongin sexting atau dosa-dosa menjadi cabul di jaman medsos (let’s just accept the fact we’re all now perverts). Enggak. Kemarin ada kawan kemarin posting slip gaji ke grup coba. Mati gak sih? Awkward parah. Sampe gak ada yang komen. Itu baru slip gaji. Kalo lo lagi ngegosip sama temen secara privat tentang bos lo dan kemudian salah kirim ke grup kantor? Atau kalo lo lagi di pasar dan lo mau tanya bini beli tampon merek apa dan pesan lo nyasar ke grup? That, my friend, is what dystopia looks like.    

 

 

Advertisements
This entry was posted in katarsis and tagged , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Lima Alasan Kenapa Chat Berjama’ah Adalah Sebuah Distopia

  1. Pertamanya cuma becandaan, eh discreenshot laporin polisi. Kejam banget dah.

    Like

  2. tamu says:

    Blognya jangan dicuekin dong bang ali 😀

    Like

  3. nay says:

    haloooo, Bang. chat berjamaah itu saya nikmatin pas awal kuliah, pakek yahoo messanger. sekarang, ada sodara yang rajin invite ke chat room, entah itu fb, WA, males banget, rameeee, annoying, saya keluar hahaaaaaa

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s