Dandhy Dwi Laksono

5724ca5b76319-ilustrasi-film-dokumenter-rayuan-pulau-palsu_663_382

Membenci selebritas medsos sudah jadi pekerjaan saya sejak ada yang namanya selebritas medsos. Itu sebab, saya merasa perubahan sikap ini—bahwa ada selebritas medsos layak puji—layak saya tulis. Dan ini harusnya bukan penemuan besar atau apa—harusnya memang begitu, dalam kehidupan yang serba kompleks ini tidak semua A itu jahat, narsisis, dsb. Dan tidak semua B itu malaikat, rendah hati, dsb. Singkat kata, tidak ada orang 100 persen jelek seperti tidak ada orang 100 persen sempurna. Akan tetapi Bung Dandhy Dwi Laksono ini lain. Dia bukan hanya bisa menulis dengan kalimat sederhana yang menekuk kemapanan kita; kebiasaan kita dalam memandang dunia, tapi dia juga terlibat di dalamnya; dia bersentuhan dengan dasar cerita dari segala wejangan moral yang dia tuliskan tanpa harus terdengar seperti kyai indosiar pada perayaan maulid nabi. Yang lebih penting lagi adalah: Bung Dandhy ini berpihak, seperti Wiji Thukul berpihak,—dia berpihak pada mereka yang tidak bisa bersuara, pada mereka yang bisa diabaikan begitu saja atas nama “kemaslahatan orang banyak,” yang bisa diartikan sebagai ego segelintir orang yang hidupnya terlalu nyaman untuk memikirkan situasi orang lain. Dan dia melakukan ini di tengah kebutaan masal orang-orang yang tidak bisa membedakan politik dan kebijakan publik, tidak bisa membedakan figur dan gagasan, tidak bisa membedakan kritik dan kebencian. Menggusur orang miskin itu tidak populis—tapi hanya ketika jumlah orang miskin lebih banyak dari kelas menengah yang egois, yang bisa dengan seenaknya bilang “itu orang miskin jangan dimanjain!” Orang harus dinilai dari apa yang mereka kerjakan. Kita tidak menilai perkerjaan dari siapa yang mengerjakannya. Dan kritik, kadang-kadang, hanyalah sebuah kritik. Ia bukan tanda kebencian. Seperti apa yang dilakukan Bung Dandhy—kritiknya lahir dari kepedulian dia pada orang-orang yang terpinggirkan. Kalopun ada kebencian, maka obyek kebencian itu bukan pada figur, tapi pada gagasan, pada kebijakan sang figur, pada ketidakadilan.—Salam hormat dari saya, Bung Dandhy!

Advertisements
This entry was posted in Orang, Uncategorized and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s