AADC Itu Film Remaja, AADC 2?

Kalo kalian ini lelaki, masih berusia belasan alias masih pake seragam sekolah dan gak punya pacar, kemungkinan kalian gak nonton film AADC di bioskop ketika ia dirilis pada awal dekade 2000-an. It’s just weird, isn’t it? Karena film AADC ini film remaja. Maksud gue, ini bukan film Anak Menteng. Atau film Ali Topan Anak Jalanan. Keduanya film remaja, iya—tapi di situ protagonisnya bukan geng cewe SMA yang bersatu padu melawan kejamnya patah hati. FACE IT: AADC itu chick flick. Dan satu-satunya justifikasi anak ABG cowo yang nonton film itu di bioskop ya nemenin pacar. And that’s perfectly fine. I didn’t have money to take anyone to a movie anyway.  

Nontonnya malu dulu

OK, itu gue yang masih berusia belasan tahun yang ngomong.

Pada kenyataannya: AADC is a great movie. Film ini ikonik in so many ways. Film ini mewakili sebuah generasi. Dan pada akhirnya semua orang yang menjadi bagian dari generasi Cinta dan Rangga, anak STM atau anak SMEA atau SMKK, nonton film AADC—di rumah pake VCD (YES KIDS VCDS!), di TV atau, you know, di canel Youtube. Dan film ini pun ditahbiskan sebagai klasik, jadi monumen dalam sejarah budaya pop Indonesia. Berbagai referensi film ini terbenam secara kolektif di kepala banyak orang, suka atau gak suka, pernah atau gak pernah mereka menonton film itu. Dialognya memorebel: “Basi, madingnya udah terbit!” Budaya pop ya begitu. Lo mungkin ga pernah nonton The Godfather atau Star Wars—tapi besar kemungkinan lo paham referensinya. Apalagi Game of Thrones. I’ve never seen it and I’m tired of it.

Tapi sebenarnya kenapa AADC itu populer?

Ada banyak alasan teknisnya tentu. Plotnya lumayan bagus. Sinematografinya oke. Scoring-nya juga oke banget. Dian Sastro enak dilihat. Rangga, buat yang remaja perempuan, itu ibarat malaikat yang turun ke bumi jadi anak sekolahan yang gila puisi. Dan bisa dibilang semua tentang film itu fresh. Coba bandingin AADC dengan film-film awal 1990-an yang gak jelas arahnya kemana dari segi sinematografi, cerita, ekting, dlsb. Akan tetapi, menurut ane, apa yang menjadikan AADC populer itu adalah keberhasilan film ini untuk mengisi lubang fantasi anak remaja yang sudah tidak bisa lagi relate dengan idola-idola remaja yang sudah ketinggalan zaman.

Persona alim Rano

Sederhana ini. Cinta itu persona ideal anak remaja perempuan di Jakarta pada awal abad ke-21. Karakternya jelas gak sama dengan Yessy Gusman—cewe-cewe yang sendu-sendu gimana (Iya, Alya was more like Yessy Gusman. That’s why she was not the protagonist). Cinta itu bisa centil kayak Lidya Kandou, tapi juga bisa super serius kayak Christin Hakim. Dari segi karakter dia ya lebih fresh. Dan di atas itu semua: she’s pretty. Semua ABG perempuan mau jadi Cinta. Rangga pun sama. Rangga dengan mudah jadi persona ideal remaja lelaki 2000-an karena orang udah gak bisa relate dengan gantengnya Bucek Depp yang urakan dan gak punya masa depan. Pada saat yang sama, orang juga gak siap balik lagi memuja Rano Karno sebagai orang ganteng yang alim tipikal anak OSIS. Rangga bukan anak OSIS. Rangga bukan anak alim. Rangga itu orang buangan sama kayak Bucek. Bajunya dikeluarin. Tapi dia gak punya kumis atau jenggot. Dia urakan tapi klimis. Dan gak kayak Bucek atau Ryan Hidayat atau Ari Sihasale, dia smart dan punya masa depan. Dan gak kayak si Boy, dia bukan anak orang kaya. Sempurna lah sudah, semua orang pengen jadi Rangga. Itu sebab AADC populer: Cinta dan Rangga adalah fantasi semua orang.

 

Tapi, kenapa kita mau jadi Rangga/Cinta? Ya jelas karena kita juga anak ABG pada waktu itu. Kita juga masih belasan. Kita mau jadi Rangga sebagai anak remaja. Lain cerita sekarang. Kita yang sekarang berusia 30-an harusnya udah gak bisa relate lagi sama Rangga, kecuali dalam nostalgia atau you’re a total loser. Penonton AADC sekarang fantasinya harusnya sudah berubah toh karena tekanan sosialnya juga berubah. Kawin, punya rumah, nonton bola, membela orang miskin, dlsb. Dengan kata lain, fantasinya mungkin gak semuluk waktu remaja dulu. Dan lebih bisa nrimo keadaan. So, ya jadi apa yang dijual AADC2 ini mestinya gak sama lagi, bukan lagi fantasi tentang manusia ideal pada usia 30-an. Karena formula itu udah gak relevan lagi. Cinta dan Rangga harusnya udah bukan lagi jadi model bagi fantasi penontonnya yang kini sudah berumur, yang sudah pasrah dengan pilihan karirnya yang ternyata tak semenyenangkan dan se-fulfilling yang dibayangkan. Pada usia 30-an, sebagian besar kita sudah sadar dengan kelemahan dan keterbatasan kita dan kemudian menerimanya dengan berat senang hati. Kalo gak gitu, yang ada kita malah jadi lebih sinis. Bitter. Jangan-jangan malah eneg nonton AADC.

Gak ada si Alya

Jadi, sebetulnya saya bingung, apa yang mau dijual? Nostalgia? Ya paling rendah ya nostalgia. Tapi kalo Mira Lesmana dan Riri Reza serius membandingkan AADC dengan trilogi Before Sunrise mereka harus kerja keras untuk membuat AADC berhasil. Karena pondasinya beda. Before Sunrise sejak awal bukan film ABG. Ada benang merah dalam tiga film Linklater secara konseptual—romantisisme versus kenyataan. Tapi kalo AADC 2 ini gue bingung bakal kayak gimana. Apa bisa ia  mewakili fantasi kolektif penonton yang kini berusia 30-an ke atas? Apa bisa ia menjadi film serius yang menceritakan psikologi mereka yang sudah bisa menertawakan para buli yang kini sudah jadi bapak teladan?  

Gue belum nonton filmnya. Tapi pesimis sudah. Did they just ruin AADC?

 

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to AADC Itu Film Remaja, AADC 2?

  1. Ariesusduabelas says:

    yes yes yes

    Like

  2. It’s going to be finish of mine day, except before end I am reading this fantastic article to increase my experience.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s