Teguh

Guh, gue lupa kapan kita terakhir ngobrol. Bahkan, gue lupa kapan kita terakhir ketemu. Apa mungkin di waktu Lebaran? Kapan? 10 tahun lalu? Entah. Tapi gue ingat kita pernah main bareng waktu kecil dulu. Itu hampir 30 tahun lalu. Dan gue denger kemarin lo udah gak ada lagi. Dan gue bahkan lupa bagaimana caranya gue ngomong sama lo—aku, kamu, lo, gue? Dan gue merasa bersalah. Katanya ga ada yang dateng waktu lo nikah. Dan yang lebih parah lagi, gue baru denger lo udah nikah waktu gue denger lo baru aja pergi, dikubur di pemakaman di antara rumah lo dan bekas rumah gue dulu, di tempat kita biasa main. Waktu membentang jauh. Selamat jalan, Guh. Innalillahi wa inna ilahi roji’un. RIP.

Advertisements
Posted in Uncategorized | Tagged , , | Leave a comment

Alvvays

Konon katanya bau Camera Obscura—pop kamar apalah itu istilahnya. Tapi, meskipun Camera Obscura itu tidak bisa dibilang jelek, Alvvays ini berada di level yang berbeda dengan Camera Obscura. Ini, tentu saja, selera pribadi. Entah salah siapa—mungkin karena Molly Rankin is so damn pretty ini bukan hanya berbakat sebagai musisi, tapi lebih dari itu, dia ini punya kepekaan pada sisi-sisi kehidupan yang aku bisa relate, which is weird. Karena lagu Adult Diversion itu pastilah bukan seusatu yang akan pernah gue alamin juga. Tapi lagu itu manis—dan aku bisa tahu apa yang dialami si Molly itu. Tapi lagu Alvvays bukan hanya itu. Di lagunya yang lain, Molly pun sama menye kayak anak abege. But the songs are heartwarmingly sweet; it feels like having a crush for someone for the first time. Mungkin agak sedikit memalukan kalo ente orang Kanada. Kayak Mocca, Mocca itu band yang bagus. Tapi kok kayaknya gak enak ngefans sama Mocca. Mungkin karena liriknya kurang absurd. Gak kayak Alvvays—ini band bisa bikin lagu tentang pembunuhan seolah itu lagu patah hati biasa, bisa nulis “we can find comfort in debauchery” dan masih terdengar seperti lagu abege. Beda sama Mocca atau Makthaverskan yang entah terlalu manis, terlalu vulgar. Moderasi yang sempurna.

Posted in Uncategorized | Tagged , | Leave a comment

Waham Muslim Liberal Ngehe

Orang Islam yang liberal, ngehe dan delusional. Mereka ada di kepala untuk saya cela. Apanya yang Islam? Apanya yang liberal? Apanya yang ngehe? Dan apanya yang delusional? Saya tidak punya jawaban yang jelas soal ini. Tidak ada jawaban yang bersifat analitis, atau kategoris. Aku tidak punya data yang solid, laiknya seorang peneliti sosial yang mumpuni, juga premis atau anggitan yang sempurna untuk menopang apa yang ingin saya ungkapkan di sini; bahwa di luar sana, ketika saya menulis ini, ada sekelompok orang yang saya sebut Muslim, liberal, ngehe dan delusional—hidup damai tentram di balik akun medsos mereka.

ya ya ya semua salah

orang miskin harus dibela! yea rite

Aku sadar label hanyalah label, dan label tak mesti berkorespondensi dengan kenyataan, dengan sesuatu apapun itu, apalagi manusia, yang tidak satu dimensi, yang dikenakan label itu sendiri. Aku sadar label itu generalisasi—dan generalisasi tidak pernah adil. Pun, aku sadar bahwasanya kenyataan itu kompleks. Tadi siang aku melihat tukang pasang batre jam. Hidup berjalan seperti adanya buat si abang itu. Kerja dari pagi sampe sore. Apa dia berpikir bahwa kemalangan dia adalah akibat dari sistem yang tidak berkeadilan—dilahirkan sebagai miskin, tak punya akses pada pendidikan, tak punya akses pada lapangan pekerjaan? Ah, misteri eksistensi, sejak dulu menggoda nalar. Tapi di sini aku tak ingin berfilsafat. Aku ingin memuntahkan rasa jengkel pada sekelompok orang di kepala, yang boleh jadi imajiner, tapi punya karakteristik yang menurut saya jelas. Mereka ini:

Berpikir kalo masalah terbesar kehidupan atau satu-satunya masalah di dunia adalah agama. Adalah benar bahwa agama biang dari banyak persoalan. Tapi agama jelas bukan satu-satunya biang persoalan. Narkoba, misalnya. Atau kemiskinan. Dua persoalan itu tidak bisa disebut sebagai akibat langsung dari agama. Ada biang-biang lain yang juga layak disalahkan dan tidak bisa diabaikan. Kapitalisme, misalnya. Atau oligarki. Keserakahan. Egoisme. Hilangnya empati. Dlsb.       

Dan sialnya, mereka ini adalah juga orang yang mengaku beragama. Tapi mereka ini beragama dengan “benar.” Tidak seperti anggota FPI atau orang-orang Islam yang biasa dikasih label salafi, revivalis, fundamentalis, islamis, garis keras, dlsb. Ironisnya dari orang-orang ini adalah mereka ini punggawa pluralisme, sering kali berkoar bahwa setiap penafsiran adalah benar, bahwa mereka belum tentu benar, bahwa orang punya hak untuk berbeda, tapi mereka juga yang paling bernafsu mengekang kebebasan orang lain, mencibir kebebasan orang lain. Tentu, tidak semua yang mereka protes itu tidak beralasan. Tapi lihat batas juga lah. Mengkritik FPI itu perlu. Melarang keberadaan FPI itu ya kebablasan. Membela minoritas itu penting. Mengintimidasi mayoritas dengan kosakata intelektual yang ajebrew binti menggurui alias patronizing itu ya keblinger. Di mata saya, seliberal-liberalnya orang, selama masih beragama—sebelas dua belas sama FPI!

orang islam paling pinter

orang islam paling pinter

Oleh karena dua alasan di atas: mereka cenderung abai pada absennya keadilan sosial. Mereka berpikir bahwa jikalau FPI mati, dunia akan baik dengan sendirinya. Itu karena, pada saat ini, mereka tidak berada di level paling bawah dalam piramida sosial-ekonomi masyarakat. Mereka gak punya kepentingan untuk ikut demo sama buruh-buruh di Jakarta. Mereka gak punya kepentingan untuk melawan tirani penggusuran. Pendek kata, mereka ini defisit empati. Sudah kadung nyaman dengan kehidupan mereka. Satu-satunya persoalan yang mereka pusingi ya FPI itu, yang akan mengancam gaya hidup liberal mereka. Jadi ketika ada figur yang bisa dijadikan simbol perlawanan atas FPI sebagai nemesis para Muslim liberal bin progresif itu—dengan membabibuta mereka bela itu figur, tak perduli kalo orang yang sama adalah orang yang cenderung abai pada keadilan sosial, karena mereka juga udah gak perduli persoalan itu. Kalo pun iya mereka perduli—sifatnya charity belaka. Sumbang sana, sumbang sini. “Kalo masih miskin, itu salah mereka! Jangan malas! Harus mandiri! Hidup itu keras! Kerja!” What an asshole.

Ngehenya mereka itu ya itu: kebal ironi. Merasa pluralis, padahal fasis. Merasa jago karena membela agama minoritas, tapi abai pada minoritas miskin. Lebih jauh dari itu, mereka ini bersikap seperti FPI pada kelompok minoritas miskin, dengan memberi stigma pemalas, sampah masyarakat, tidak tahu diuntung dlsb. Sudahpun begitu, masih bisa mereka menyebut diri humanis. Dasar kutu.

Disklemer: Saya mungkin sama liberal, ngehe dan delusionalnya.

Posted in katarsis | Tagged , , | Leave a comment

Lima Alasan Kenapa Chat Berjama’ah Adalah Sebuah Distopia

Dunia berubah. Apa yang bisa kita lakukan? Sedikit, kalo ada. Coba tanya Rhenald Kasali, evangelis perubahan paling wahid seantero negeri. Kalo lo gak berubah, katanya, lo bakal jadi sejarah. Liat Nokia dan Blackberry—di mana mereka sekarang? Gua sebetulnya bukan anti-perubahan. Tapi gua gak bisa bohong kalo gua juga merasa perubahan gak melulu bagus. Dan gak semua yang jadul dan tradisional jelek. Iyalah. Coba liat karya seni Renaisans. Atau coba dengerin Mozart. Dan sudahlah tentu: Gak semua yang baru, modern, teknologis, muthakhir, dijital itu  bagus. Grup Watsap, contohnya. Kalo ane bilang mudorotnya lebih banyak ketimbang manfaatnya. Buat mereka yang agak agorafobik, kamar ceting adalah sebuah distopia. Eksistensinya tidak bisa dijustifikasi secara moral. Sedikit, sedikit sekali kemajuan teknologi yang bikin ane marah. Ceting ramean adalah salah satunya. Jadi, kenapa sih? Kenapa Grup Watsap is annoying and scary as fuck?

47913661-Business-People-Group-Chat-Communication-Bubble-Concept-Businesspeople-Talking-Discussing-Communicat-Stock-Vector

Grup cet kantor. Lagi musim.

Setiap saat kita berdiri di depan panggung

Pada dasarnya grup Watsap itu public speaking. Dan buat sebagian orang public speaking itu gak beda dengan lompat ke jurang. Oh, lo udah merasa nyaman dengan temen-temen di grup ceting lo? Lo gak merasa canggung? Ya I’m not talking about you. Tentu saja dalam grup cet selalu ada orang yang seneng ngelucu yang sering postang-posting soal apa aja. Tapi, jangan lupa, ada juga mereka yang merasa perlu untuk memikirkan masak-masak apa yang akan dia posting di grup. Kira-kira situasinya begini: “Ini kalo gua ngomong gini di chat gua bakal dianggap psikopat gak ya?” Iya, iya, gue tau, kalo susah, posting aja yang simpel-simpel gak usah sok lucu atau sok pinter. Kayak, ngucapin selamat pagi, misalnya. Apa salahnya sih? Well, kadang, kalo gua lagi kesetanan, rasanya mau nyekek orang yang pagi-pagi ngewatsap cuma ngucapin selamat pagi. What a freak.

Mereka Yudas dan mereka bukan gajah

Dan kalo lo salah ngomong di grup cet, dan lo jadi bahan buli di grup, mereka bisa screen capture komen lo. Jadi, ibaratnya lo disuruh nyanyi di depan kelas. Dan ternyata resleting lo kebuka. Atau tiba-tiba celana lo kedodoran. Dan semua orang punya kamera. Dijepret lah. Habis sudah karir politik ente. Lo gak bakalan bisa jadi presiden. Intinya, lo ga bisa jamin di grup lo gak ada Yudasnya. Lo ga bisa 100 persen percaya temen lo itu temen lo di Internet. Udah banyak kasus—lo salah ngomong di grup cet, besoknya orang se-Indonesia baca komen lo. Jadi ingat, temen lo di grup cet itu bisa jadi Yudas dan mereka bukan gajah!

aid60683-728px-Forget-About-an-Humiliating-Experience-Step-14

Hahahahaha.

Mereka tidak akan pernah bisa diam

Mereka tidak akan pernah berhenti. And you will have to catch up. Lo tau itu bodoh—dan lo bisa aja gak peduli. Tapi kita semua tau lo suka baca pesan apapun yang masuk ke hape lo. OH, ADA SMS! Ah, the good old days. Jadi, kau ingat-ingat ini. Mereka tidak akan pernah lelah. Kalo mereka berhenti, itu karena mereka sudah lari ke grup lain. And they will add sooner or later. Dude, run for your fucking life.

1*70nC7ktnNMg9Ygf7hHogRQ

Mereka tidak akan melepasmu begitu saja

Grup cet itu tekanan sosial at its most ferocious. Mereka ini bisa bertingkah kayak aktivis NII atau sekte agama aneh yang gak akan melepas lo begitu aja. Harga sosialnya terlalu mahal, kadang. Apalagi kalo lo tipe orang yang peduli apa kata orang. Kenapa? Karena kalo lo di-add ke grup. Itu artinya lo dianggap sebagai bagian dari kelompok sosial itu. Dan kalo lo cabut, lo berarti itungannya murtad. Lo bertindak makar, alias treason.  Dan mereka akan ngomongin lo di belakang keypad. They will fucking judge you. And there will be consequences my friends. Ya, tentu saja, apa salahnya jadi orang anti-sosial? Ya gak ada. Tapi lo kan gak tinggal di novelnya Dostoyevsky. Lo pengen jadi anti-sosial yang invisible. Lo gak mau jadi bahan gunjingan orang. Itu kutukannya: jauh di lubuk hati lo itu konformis.

image

They’ll come to you.

‘Kampret gue salah kirim Watsap ke grup!’

Nah, kalo lo merasa alasan di atas terlalu mengada-ngada. Lo harus terima kalo ini adalah resiko grup cet yang gak bisa lo cuekin begitu aja. Gua gak ngomongin sexting atau dosa-dosa menjadi cabul di jaman medsos (let’s just accept the fact we’re all now perverts). Enggak. Kemarin ada kawan kemarin posting slip gaji ke grup coba. Mati gak sih? Awkward parah. Sampe gak ada yang komen. Itu baru slip gaji. Kalo lo lagi ngegosip sama temen secara privat tentang bos lo dan kemudian salah kirim ke grup kantor? Atau kalo lo lagi di pasar dan lo mau tanya bini beli tampon merek apa dan pesan lo nyasar ke grup? That, my friend, is what dystopia looks like.    

 

 

Posted in katarsis | Tagged , , | 3 Comments

Gunther

index

artketip pecundang di akhir abad ke-20

Siapa yang lebih menderita, Raskolnikov atau Gunther? Aku bilang Gunther. Raskolnikov masih punya keinginan untuk melawan nasib, memberontak dari belenggu takdir. Gunther tidak. Gunther pasrah pada nasib—selamanya hidup dalam fantasi dan keinginan yang lemah, terperangkap dalam kesepian yang panjang. Apa jadinya Gunther tanpa Rachel, perempuan yang bahkan tidak cukup peduli untuk membencinya, perempuan yang kita semua yakin tidak akan pernah menganggapnya penting. Bisa dibilang Gunther adalah karakter paling sedih dalam seri Friends (atau sejarah film). Dia ini adalah antitesa dari kehidupan sepi yang ditakuti semua karakter utama Friends: selamanya stuck di gigi dua dan tidak ada seorang dan sesuatu pun yang bisa membuat hidupnya cerah.

Posted in Uncategorized | Tagged , , | Leave a comment

Lima Hal Yang Perlu Kalian Sepakati Sebelum Kalian Berdebat Soal Siapa Menghormati Siapa Di Bulan Ramadan

index

Gue tau lo semua udah pada pinter-pinter semua. Gue yakin tulisan ini pun kagak bakalan mengubah pandangan kalian sedikit pun. Apalagi gua bukan ustad atau intelektual Islam Salihara yang suka baca kitab kuning dan kitab-kitab filsafat Barat. Gue cuma bloger, dan setiap orang bisa jadi bloger. Dan poin-poin dalam tulisan ini pun bukan sesuatu yang njlimet. Karena, come on, harusnya ini bukan masalah yang suseh juga. Kayak, orang sering bilang: “ya, yang penting saling menghormati aja!” Ya, itu benar. Harusnya begitu. Harusnya, di dunia yang ideal, kalimat itu menyudahi persoalan. Tapi, kenyataannya enggak. Karena lo pade semua rese dan gak ada kerjaan. Karena mungkin masalahnya lebih pelik dari itu. Masalahnya gak bisa diselesaikan oleh kata-kata klise atau platitudes. Ini bisa dimaklumi. Maksud gue gini, secara kongkret, apa artinya saling menghormati? Dalam praktiknya menghormati itu sebetulnya ngapain? Apakah membiarkan orang berjualan di bulan puasa itu bisa disebut sebagai menghormati yang tidak puasa? Apakah tidak makan di depan orang puasa bisa disebut sebagai menghormati yang berpuasa? Apakah hormat? Apakah puasa? Ribet, kan? Well, ya, kalo orang-orang bisa kagak rese dan mind their own fucking businesses, harusnya gak ribet sih. Makanya, gue pikir tim “ORANG GAK PUASA HORMATIN YANG PUASA!!” dan tim “ORANG PUASA HORMATIN YANG KAGAK PUASA!!” kudu sepakat dulu apa yang sebetulnya kalian perdebatkan. Biar jelas, yang diributin itu sebetulnya apaan. Oke, langsung aja lah, sebelum lo pade ribut-ribut lagi. Kita sepakati dulu:

Kita ini ngomongin puasa Ramadan, bukan yang lain

Puasa gak sama dengan solat dan ibadah lainnya. Puasa, PASTINYA, gak sama dengan ibadahnya agama lain. Misalnya, nyepi. Puasa Islam juga beda dengan puasa Kristen, atau Yahudi. Puasa di sini juga merujuk pada puasa Ramadan, bukan puasa Senen-Kemis atau puasa Daud. Atau puasa sebelum lebaran haji. Kalian harus sepakat. Ini soal puasa Ramadan, bukan yang lainnya. Karena kalo kalian mulai bikin perumpamaan dan memperdebatkan soal lain, ya ente bakal susah sendiri. Karena—menghormati orang yang lagi puasa dengan menghormati orang yang lagi senggama itu gak sama. Oke, sepakat? Sepakat aja laaaah…

fast-repent-sins-ideally-yom-kippur-ecard-someecards

Kita gak lagi bicara soal hak—karena hak itu mutlak

Hak itu sifatnya mutlak. Dan ini harus kita sepakati bener-bener. Orang Islam berhak berpuasa. Orang yang bukan Islam berhak untuk tidak berpuasa. Dan secara Indonesia bukan negara berbasis penafsiran agama tertentu, yang bersifat monolitik dan fasis, setiap orang berhak untuk menjalankan agamanya sesuai dengan kemampuan, kadar pengetahuan dan kadar iman masing-masing. Jadi—INI GAK BISA DIGANGGU GUGAT. Orang berhak gak berpuasa, seperti orang berhak berpuasa. Yang kita perdebatkan ini bukan persoalan hak, tapi soal tata krama, soal kesepakatan sosial, soal bagaimana sebaiknya, bukan seharusnya,  kita hidup bersama-sama, yakni orang yang berpuasa dan yang tidak berpuasa, yang karena kehendak ALLAH SWT/Sejarah mesti berbagi ruang publik bersama.

Apa yang dimaksud menghormati orang puasa/tidak puasa itu relatif

Ini yang susah. Gue yakin kedua kubu sama-sama ingin menghormati. Tapi mereka gak sepakat dengan tindakan apa saja yang bisa dianggap sebagai menghormati atau tidak menghormati. Jadi, ya, gue pikir kita mesti sepakat kalo apa yang dimaksud dengan menghormati di sini sifatnya relatif. Betul-betul tergantung konteks dan situasi. Itu artinya: ini kita gak bisa pukul rata. Harus dilihat kasusnya masing-masing. Contoh kasus: Lo kagak puasa. Dan terus lo tanpa alasan yang jelas bawa 20 mangkok Indomie yang masih panas ke masjid buat lo makan sendiri di depan orang-orang yang lagi tiduran dan kelaparan di masjid sehabis solat zuhur. Apakah ini artinya lo brengsek dan gak menghormati orang puasa? Tergantung. Kalo semua orang Islam itu zuhud dan imannya udah level “oh, fuck this world!” ya mungkin lo dianggap sinting doang. Intinya sih, sebelum kalian berdebat siapa harus menghormati siapa, kalian sepakati dulu tindakan apa saja yang bisa dianggap (tidak) menghormati orang yang (tidak) berpuasa. Dan dalam konteks serta situasi yang bagaimana. Again, pak, gak bisa dipukul rata.

Masalahnya bukan boleh tidak boleh, tapi kapan, warung makan buka

Oke, iya, iya, masalahnya warung bisa buka apa enggak. Menurut gue kita mesti sepakat dulu kalo mencari nafkah itu hak orang. Masalahnya, apakah bisa diatur waktu beroperasinya? Apakah, misalnya, warung bisa diminta buka setelah Ashar? Menurut gue bagian ini yang harus diperdebatkan. Jadi, masalahnya bukan apakah orang bisa jualan makanan di bulan puasa, tapi kapan mereka bisa jualan di bulan puasa. Nah, debatnya fokus di situ. Bawa argumen masing-masing. Bawa data masing-masing. Biar keliatan siapa yang paling bigot ngawur.

010811_SOLO_tirai-restoran2

makan apa senggama pake tirai?

Kita mau debatin apa? Agama, perda atau tata krama?

Ya gue tau semuanya terkait. Tapi fokusnya harus jelas. Kalo masalahnya agama, ya coba gali literatur agama yang menyoal ini. Dan berdebatlah secara sehat. Kalo masalahnya perda, ya coba liat perdanya, redaksinya gimana, apakah ada klausul yang tidak masuk akal, apakah perdanya rasional, dlsb. Dan kalo ini soal etika, ya coba dibahas secara spesifik apa dan apa yang bisa dianggap tidak sopan dlsb. Karena ini semua beda: agama bukan perda, perda bukan etika.

Oke, sudah. Selamat (tidak) berpuasa!

Posted in Uncategorized | Tagged , , | 3 Comments

Dandhy Dwi Laksono

5724ca5b76319-ilustrasi-film-dokumenter-rayuan-pulau-palsu_663_382

Membenci selebritas medsos sudah jadi pekerjaan saya sejak ada yang namanya selebritas medsos. Itu sebab, saya merasa perubahan sikap ini—bahwa ada selebritas medsos layak puji—layak saya tulis. Dan ini harusnya bukan penemuan besar atau apa—harusnya memang begitu, dalam kehidupan yang serba kompleks ini tidak semua A itu jahat, narsisis, dsb. Dan tidak semua B itu malaikat, rendah hati, dsb. Singkat kata, tidak ada orang 100 persen jelek seperti tidak ada orang 100 persen sempurna. Akan tetapi Bung Dandhy Dwi Laksono ini lain. Dia bukan hanya bisa menulis dengan kalimat sederhana yang menekuk kemapanan kita; kebiasaan kita dalam memandang dunia, tapi dia juga terlibat di dalamnya; dia bersentuhan dengan dasar cerita dari segala wejangan moral yang dia tuliskan tanpa harus terdengar seperti kyai indosiar pada perayaan maulid nabi. Yang lebih penting lagi adalah: Bung Dandhy ini berpihak, seperti Wiji Thukul berpihak,—dia berpihak pada mereka yang tidak bisa bersuara, pada mereka yang bisa diabaikan begitu saja atas nama “kemaslahatan orang banyak,” yang bisa diartikan sebagai ego segelintir orang yang hidupnya terlalu nyaman untuk memikirkan situasi orang lain. Dan dia melakukan ini di tengah kebutaan masal orang-orang yang tidak bisa membedakan politik dan kebijakan publik, tidak bisa membedakan figur dan gagasan, tidak bisa membedakan kritik dan kebencian. Menggusur orang miskin itu tidak populis—tapi hanya ketika jumlah orang miskin lebih banyak dari kelas menengah yang egois, yang bisa dengan seenaknya bilang “itu orang miskin jangan dimanjain!” Orang harus dinilai dari apa yang mereka kerjakan. Kita tidak menilai perkerjaan dari siapa yang mengerjakannya. Dan kritik, kadang-kadang, hanyalah sebuah kritik. Ia bukan tanda kebencian. Seperti apa yang dilakukan Bung Dandhy—kritiknya lahir dari kepedulian dia pada orang-orang yang terpinggirkan. Kalopun ada kebencian, maka obyek kebencian itu bukan pada figur, tapi pada gagasan, pada kebijakan sang figur, pada ketidakadilan.—Salam hormat dari saya, Bung Dandhy!

Posted in Orang, Uncategorized | Tagged , | Leave a comment