Nonton Konser Danilla

 — hanya bisa saya bayangkan; karena saya tidak suka musiknya. Dan yang lebih penting dari itu, saya tidak terbiasa dengan persona si mbaknya. Kalo si mbaknya sama saya satu sekolahan, kecuali dipaksa kerja kelompok, tidak akan pernah sekalipun, dia atau saya, akan saling bertegur sapa. Apalagi dia artis, saya jelata. Jadi saya cuma bisa lihat si mbaknya dalam thumbnail video di Youtube; atau dalam satu dua lagunya yang saya klik, yang tidak pernah saya habiskan—hanya karena saya terlalu sibuk mikir kenapa saya merasa tidak nyaman dengan persona dan musik si mbaknya. Dan iya tentu saja ini bukan salah mbaknya; bukan salah saya, atau salah komentator di Youtube juga. Duh, ini postingan blog yang sangat tidak perlu memang. Dan itu, kisanak, adalah faedah utama media sosial.

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Ariel Merah Jambu

Kawan benci banget sama ini orang—Ariel Pink. Musiknya jelek, katanya. Tapi saya suka beberapa lagunya. Tak semua, tentunya. Beberapa saja. Dan yang paling saya suka satu lagu ini: Put Your Number in My Phone. Saya senang dengan ambiance yang dibangun oleh musik lo-fi-nya, lirik juga melodinya yang manis, biarpun nuansanya begitu desperate, merengek-rengek, tapi kok kayaknya semua bisa dimaafkan; seolah orang yang menyanyikan lagu ini memang sudah se-desperate lelaki berkursi-roda dalam video klip lagu tersebut, dengan Ariel seperti bajingan gak tau malu. Haha. Ya, Julian tempo hari mungkin lagi ngebet promo album baru dan bawa-bawa Ariel Pink dalam antic dia; tapi Ariel sendiri menurut saya lumayan. Tidak ada yang sungguh baru dari apa yang dia buat; tapi buat saya beberapa karyanya sama sekali tidak jelek. Lagu di atas salah satunya.

Posted in Musik | Tagged , | Leave a comment

Obskuritas

1413489238-businesses-die-obscurity-do-all-you-can-gain-attention
Tiada yang lebih fana dari keinginan menjadi terkenal. Entah dari mana asalnya: tapi sejak dahulu kala, kemasyhuran sudah menjadi berhala. Raja yang masyhur. Tabib yang masyhur. Penyair yang masyhur. Apa, sebetulnya, yang membuat orang merasa ingin dikenal orang lain? Enaknya di mana? Di zaman kini, orang bisa jadi terkenal tanpa alasan. Raja bukan, musisi bukan, pemikir bukan, apapun bukan. Kau bisa jadi anak sekolahan yang narsis, atau orang yang sekedar punya waktu buat video di Youtube, atau merepet di Fesbuk dan Twitter. Likes, ah likes. Retweets. Shares. Aku sendiri juga punya keingingan itu. Aku juga senang dikenal orang. Saya merasa hebat bila ada satu post saya di media sosial banyak dibaca orang, apalagi dikomentari dan dipuji. Ah, betapa fana, karena melihat itu semua kini, melihat semua post yang dulu pernah “terkenal” atau “viral” itu, tak sebenang jua pun ada rasa bangga (ah, bangga! Kebanggaan!). Satu alasannya mungkin adalah faktanya post itu sudah tak lagi dikunjungi orang; kecuali satu dua necroposter yang kehilangan arah di jagad internet yang kerap hadir sebagai simulakra tiada berujung ini. Aku ingat Sora9n, anak muda yang biasa menuliskan pikirannya di Internet; dan betapa Sora9n ini bukan Iqbal Aji Daryono dan semua penulis internet beken lainnya; betapa dia bukan selebritas, bukan berhala intelektual yang dipuja ribuan followers di Twitter. Ada yang melenakan dari bersembunyi dalam obskuritas; karena kenyataan sering kali terlalu berat untuk dikunyah, dan orang lain, sebaik apapun mereka, bisa jadi rese setengah mampus.

Tidak bisa dipungkiri, kami adalah pengecut. Meski, sebagai sebuah pembelaan, kami berfikir dunia maya yang riuh dengan segala komentar pintar dan salih itu tidak layak untuk diseriusi—toh, apa yang bisa kami lakukan? Menabur garam di lautan? Fana, sia-sia—memilih jalan obskuritas memang penuh paradoks. Tidak ada yang lebih fana dari keinginan menjadi obskur, keinginan untuk tidak menjadi terkenal. Karena, apa yang membuatku berpikir aku akan menjadi terkenal dalam semalam? Mungkin masalahnya niat; yakni desakan menjadi terkenal.

Apa yang ditawarkan dari keinginan, pilihan menjadi obskur, paling banter, adalah kekebebasan dari hasrat ngebet maksa pengen terkenal.  

Posted in katarsis | Tagged , | Leave a comment

Menjelang Akhir Tahun

Menjelang akhir tahun setan-setan yang merasa belum selesai biasanya bergentayangan di atas rumah, menyanyikan lagu lama yang melenakan. Entah judulnya apa, juga pada kunci apa.  Mereka biasanya pergi, entah kemana, setelah bunyi terompet menyalak di jalan-jalan raya, dan anak-anak remaja tanggung merasa dunia berada di tangan mereka. Pada tahun yang baru.

Posted in Uncategorized | 1 Comment

Politik Itu Sementara, Puisi Abadi

f87de1210cfa5bd7ca3b1fd2648f6e73.pngYang politik, dan yang puitis. Keduanya niscaya. Kita tidak punya kemewahan untuk memilih. Kita bisa mengelak, menutup mata juga telinga, dan kemudian tidur sepanjang hari, tapi yang politik tetap akan hadir juga, poking us, menarik selimut kita, hadir dalam berbagai bentuknya, seperti tagihan pajak, atau sebuah pertanyaan bila besok masih ada listrik, gas dan transportasi. Layanan publik tidak terjadi begitu saja, dikelola secara ajaib oleh Tuhan semesta alam dan para malaikatnya nun jauh di sana. Layanan publik itu hanya mungkin ada bila kita percaya bahwasanya ada suatu kuasa besar di luar sana yang bisa melayani kita, apakah itu negara atau korporasi. Apapun, keduanya punya kuasa, dan sering kali kita sendiri yang memberi kuasa itu. Meski demikian, yang politis bukanlah yang abadi; konon, dalam politik sendiri, dikenal sebuah adagium, bahwa—dalam politik—tidak ada kawan atau lawan yang abadi. Tentu saja, ini bukan rocket science (apa padanannya dalam bahasa kita?). Politik memang begitu, tapi ya entah bagaimana sudah lewat entah berapa lama itu pilpres 2014, masih saja pun terasa polarisasi yang begitu emosional dan dangkal, seolah politik adalah pertempuran abadi antara kebaikan dan keburukan, seolah politik adalah serial ksatria baja hitam, atau semata perpanjangan cerita dari kitab suci berbagai agama. Padahal politik tidak lain tidak bukan adalah ikhtiar Sapiens untuk memperpanjang hidup mereka masing-masing; yang baik dan buruk bercampur aduk, yang salah dan benar, bila memang diharuskan, bisa bergandengan tangan untuk kebaikan yang lebih besar, atau untuk kepentingan yang jauh lebih besar, terlepas dari persoalan baik atau buruk, benar atau salah. Paradoksnya di situ: dalam politik kita bisa memilih dan tidak bisa memilih pada saat yang bersamaan. Itu sebab, golput terasa begitu redundan. — Yang menjadi pertanyaan adalah sejauh mana kita mau berhenti dan melihat lagi hidup dalam berbagai lekuknya yang asing; dan kembali mengenali yang puitis dari kehidupan, yang akan selamanya abadi, dari jaman mula kehidupan hingga habis kesadaran manusia, pada mana yang tinggal hanyalah kekosongan dan keheningan yang panjang, sepi dan tiada berbatas. Ini penting untuk dilakukan karena dengan segala kesegeraan, kegentingan, kegunaan politik yang banal, mudah sekali kita berpikir bahwasanya yang politik itu abadi, seolah politik adalah segalanya. Padahal, persoalannya sesederhana membeli buah di pasar; terlepas dari pengetahuan kita yang sangat pas-pasan tentang buah-buahan, kita akan berpura-pura mencari buah yang paling bagus, atau paling tidak busuk, meskipun pada kenyataannya buah yang paling bagus dan paling tidak busuk, pada situasi yang lain, adalah kebusukan yang tiada tara. Namanya juga ikhtiar—salah atau benar, baik atau buruk, gagal atau berhasil, itu urusan nanti.

Posted in Uncategorized | 2 Comments

Teguh

Guh, gue lupa kapan kita terakhir ngobrol. Bahkan, gue lupa kapan kita terakhir ketemu. Apa mungkin di waktu Lebaran? Kapan? 10 tahun lalu? Entah. Tapi gue ingat kita pernah main bareng waktu kecil dulu. Itu hampir 30 tahun lalu. Dan gue denger kemarin lo udah gak ada lagi. Dan gue bahkan lupa bagaimana caranya gue ngomong sama lo—aku, kamu, lo, gue? Dan gue merasa bersalah. Katanya ga ada yang dateng waktu lo nikah. Dan yang lebih parah lagi, gue baru denger lo udah nikah waktu gue denger lo baru aja pergi, dikubur di pemakaman di antara rumah lo dan bekas rumah gue dulu, di tempat kita biasa main. Waktu membentang jauh. Selamat jalan, Guh. Innalillahi wa inna ilahi roji’un. RIP.

Posted in Uncategorized | Tagged , , | Leave a comment

Alvvays

Konon katanya bau Camera Obscura—pop kamar apalah itu istilahnya. Tapi, meskipun Camera Obscura itu tidak bisa dibilang jelek, Alvvays ini berada di level yang berbeda dengan Camera Obscura. Ini, tentu saja, selera pribadi. Entah salah siapa—mungkin karena Molly Rankin is so damn pretty ini bukan hanya berbakat sebagai musisi, tapi lebih dari itu, dia ini punya kepekaan pada sisi-sisi kehidupan yang aku bisa relate, which is weird. Karena lagu Adult Diversion itu pastilah bukan seusatu yang akan pernah gue alamin juga. Tapi lagu itu manis—dan aku bisa tahu apa yang dialami si Molly itu. Tapi lagu Alvvays bukan hanya itu. Di lagunya yang lain, Molly pun sama menye kayak anak abege. But the songs are heartwarmingly sweet; it feels like having a crush for someone for the first time. Mungkin agak sedikit memalukan kalo ente orang Kanada. Kayak Mocca, Mocca itu band yang bagus. Tapi kok kayaknya gak enak ngefans sama Mocca. Mungkin karena liriknya kurang absurd. Gak kayak Alvvays—ini band bisa bikin lagu tentang pembunuhan seolah itu lagu patah hati biasa, bisa nulis “we can find comfort in debauchery” dan masih terdengar seperti lagu abege. Beda sama Mocca atau Makthaverskan yang entah terlalu manis, terlalu vulgar. Moderasi yang sempurna.

Posted in Uncategorized | Tagged , | Leave a comment